ARTIKEL

BREBES: SIASAT TEATER TURBA ALA SEMBUNG SENGGANI

Brebes, Titik Lebur Tiga Kebudayaan

Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul nama “Brebes” yang di antaranya berasal dari kata “Bara” dan “Basah”, bara berarti hamparan tanah luas dan basah berarti banyak mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah “Brebes” yang merupakan dataran luas yang berair. Karena perkataan bara di ucapkan “bere” sedangkan basah di ucapkan “besah” maka untuk mudahnya di ucapkan “Brebes”. Dalam Bahasa Jawa perkataan “Brebes atau mrebes” yang berarti tansah metu banyune yang berarti “selalu keluar airnya”. Nama “Brebes” muncul sejak zaman Mataram. Kota ini berderet dengan kota-kota tepi pantai lainnya seperti Pekalongan, Pemalang, dan Tegal. Brebes pada saat itu merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tegal [1].

Kabupaten Brebes terletak di bagian Utara paling Barat Provinsi Jawa Tengah dan berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. Penduduk Kabupaten Brebes mayoritas menggunakan bahasa Jawa yang yang mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain, biasanya disebut dengan Bahasa Jawa Brebes. Namun terdapat kenyataan pula bahwa sebagian penduduk Kabupaten Brebes juga bertutur dalam bahasa Sunda [1].

Menurut Wijanarto, budayawan dan Kabid Kebudayaan Dinbudpar Kabupaten Brebes, terdapat triangulasi kebudayaan di Brebes. Setidaknya muncul tiga kebudayaan yang saling silang di Brebes, yaitu Tegal, Cirebon/Sunda, dan Banyumas.

Wilayah Kecamatan Losari hingga Bulakamba sangat kuat dan kental dengan kebudayaan Cirebon. Sementara kebudayaan Sunda cukup kuat di Kecamatan Bantarkawung, Bandarharjo, beberapa desa di Ketanggungan, Larangan, dan Salem. Kebudayaan Banyumasan kuat di empat kecamatan: Sirampog, Paguyangan, Bumiayu, dan Tonjong. Saling silang kebudayaan ini menimbulkan beberapa hal yang menarik, di antaranya adalah ketika diselenggarakan Kongres Kebudayaan dan Bahasa Jawa, orang-orang dari wilayah Brebes yang berbahasa Sunda mempertanyakan soal mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Jawa. Setelah dilakukan mediasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, akhirnya terdapat pengecualian bagi beberapa wilayah yang berbahasa Sunda untuk memakai Muatan Lokal Bahasa Sunda. Menurut Wijanarto, peta persebaran beragam kebudayaan ini menjadi kekayaan tersendiri bagi Brebes.

Sekilas Teater di Brebes

Teater di Brebes mulai muncul dan berkembang sejak 1970-an. Adalah Studi Teater Brebes (STB) yang berdiri 10 Agustus 1970. Pentas pertama STB adalah sebuah pertunjukan dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang berjudul Langit Hitam karya Taufik Ismail. Konon pementasan itu berhasil dengan baik sehingga pementasan itu diulangi lagi pada tanggal 28-29 Oktober 1970. Pertunjukan ini disutradarai oleh Fahrudin dengan pelaku-pelakunya Humaidi Zaini, Amriah KS, dll [2].

STB sendiri diinisiasi karena dirasa sangat perlunya membentuk suatu wadah baru yang bebas dari unsur-unsur suatu organisasi/golongan lain dalam soal perteateran dan kesenian secara luas. Maka beberapa individu anak-anak muda atas undangan Fahruddin berkumpul di rumah Abu Nuaim Tholib untuk membentuk grup drama yang kemudian bernama Studi Teater Brebes. Sesuai dengan namanya Studi Teater Brebes ini lebih menitikberatkan pada soal-soal teater, di samping tidak melupakan kesenian-kesenian lainnya [2]. Dalam penuturan Wijanarto, STB ini lumayan aktif hingga medio 1980-an. Setelah itu, kiprah STB kurang didengar lagi. Menurut Odie Salahudin, seorang arsiparis teater dan seni pertunjukan, kiprah STB ini mulai menurun bisa jadi karena “lepas generasi” alias tidak adanya proses regenerasi yang mumpuni. Kekosongan generasi teater modern di Brebes, terutama teater nonpelajar, baru terisi lagi ketika seorang Ahmad Faizin alias Jimmy HC mulai berkiprah dalam kegiatan seni di Brebes pada 2017 lewat Teater Sembung Senggani.

Gupak Aspal, Sebuah Asal Muasal

Dalam buku Inventarisasi Data Kesenian Jawa Tengah: Teater yang terbit 2019, Kelompok Teater Sembung Senggani yang berasal dari Desa Tonjong, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes ini berdiri pada 30 Maret 2017. Kelompok ini merupakan Divisi Teater dari Komunitas Sokandana [3].

Embrio Teater Sembung Senggani sendiri lahir dari sebuah proyek performance art yang merespon jalan rusak di Tonjong pada awal 2017. Jalan yang rusak parah hingga puluhan kilometer tersebut merupakan jalan nasional akses utama penghubung antara jalur pantai utara-jalur tengah-jalur selatan Pulau Jawa. Akibatnya, puluhan warga dan berbagai komunitas gabungan yang ada di Kecamatan Tonjong pun menggelar demonstrasi bertema “Mbela Dalan 201”. Aksi dilakukan dengan melakukan seni teatrikal tidur di atas kubangan jalan rusak yang dipenuhi lumpur sehingga disebut dengan Gupak Aspal. Tiga orang yang berperan dalam aksi teatrikal tersebut, termasuk Jimmy, terlihat mengguling-gulingkan badannya di atas lubang jalan berlumpur hingga membuat seluruh tubuh kotor [4].

Dari Gupak Aspal inilah nama Jimmy mulai dikenal sebagai seniman pertunjukan di Brebes, baik oleh masyarakat maupun aparatus pemerintahan. Dalam perayaan 17 Agustus 2017 di Kecamatan Tonjong, Jimmy akhirnya diminta membuat tari kolosal dengan 200 penari, padahal Jimmy sendiri tidak bisa menari sama sekali. Akhirnya ia meramu teater dan tari dengan membuat alur seperti dalam naskah teater (meskipun tanpa dialog). Efeknya, Jimmy lebih dikenal sebagai seniman tari dibandingkan teaterawan. Setelah pentas tari kolosal tersebut, Jimmy kembali ditanggap untuk menggarap tari kolosal di Hari Guru oleh PGRI Brebes yang berlokasi di Kecamatan Paguyangan, Brebes.

Jimmy Sembung Senggani dengan Tim Riset Panggung Pantura
Jimmy Sembung Senggani dengan Tim Riset Panggung Pantura

Sejak Gupak Aspal dan menggarap beberapa produksi tari kolosal pesanan pemerintah, Jimmy belum pernah lagi menggarap pentas produksi secara mandiri atas nama Teater Sembung Senggani. Kondisi tersebut terjadi karena masyarakat di Brebes Selatan di mana Jimmy tinggal, kurang akrab dengan seni teater modern. Menurut Jimmy, pernah ada pelaku teater di Bumiayu (salah satu kecamatan di wilayah Brebes Selatan) yang berupaya berteater, namun, pelaku tersebut tidak kuat dan kembali ke Yogyakarta tempat ia belajar seni teater. Hal tersebut menurut asumsi Jimmy terjadi karena masyarakat di Bumiayu masih jauh dari “masyarakat teater”.

Selain pemahaman atas teater modern yang belum ada, fasilitas untuk menopang pementasan teater juga tidak ada. Beruntungnya Jimmy mencoba berpikir untuk memposisikan alam sebagai panggung.

“Akhirnya keluar dari makna kepanggungan teater (modern) secara formalitas,” ucap Jimmy. Siasat Jimmy adalah berupaya untuk bermain teater dengan tidak terpatok pada gedung pementasan, tetapi menjadikan alam sebagai ruang pentas, serta turba (turun ke bawah) ke masyarakat dengan formula pertunjukan tertentu.

Formula pertunjukan yang Jimmy lakukan adalah dengan membuat formula sendratari (seni drama dan tari) yang kental dengan aspek pertunjukan seni tradisi sebagai pola pementasan. Salah satu alasannya karena masyarakat di Tonjong lebih mengenal istilah “drama” dibandingkan teater. Formula ini dipilih sebagai cara memulai mengenalkan teater ke masyarakat di Brebes, sebab sendratari memiliki unsur teater di dalamnya, meski hanya sedikit.

Formula ini akhirnya berkembang menjadi sendratasik (seni drama, tari, dan musik). Setelah bosan membawakan lagu orang untuk pementasan dan ingin membawakan komposisi lagu sendiri, akhirnya Jimmy bersama beberapa teman-teman mendirikan kelompok musik etnik yang dominan menggunakan alat musik berbahan bambu. Pada 2018 kelompok tersebut diberi nama Amuba oleh Trie Utami yang merupakan akronim dari Alunan Musik Bambu. Sayang, kelompok tersebut bubar akibat pandemi Covid-19.

Pilihan Jimmy yang mengenalkan teater lewat aspek seni tradisi ini menurut WIjanarto adalah pilihan yang tepat. Tantangan para pelaku teater (modern) di Brebes menurutnya adalah soal “bagaimana caranya menawarkan teater ke khalayak?”. Di sini mungkin muncul  persoalan relevansi teater dengan seni tradisi yang hidup di masyarakat Brebes.

Sejatinya, masyarakat Brebes sudah mengenal berbagai macam bentuk seni pertunjukan. Wijanarto mencontohkan kesenian Masres, sebuah seni pertunjukan tradisi yang biasa tampil di sedekah laut dan kental dengan kultur Cirebon. Bahkan masyarakat sudah memiliki idola dari para pemain Masres. “Ketika ada idolanya main, mereka akan ikut menonton” ucap Wijanarto.

Dari contoh Masres tersebut, posisi (atau bahkan dikotomi?) seni tradisional-seni modern sudah tidak penting. Wacana soal Teater (Modern) akan selalu merujuk pada Stanislavski.

“Tetapi kita lupa, sebetulnya teater tradisional itu hidup selayaknya seni modern,” ucapnya.

Ludruk (Jawa Timur), Ketoprak (Jawa Tengah), dan Masres (Cirebon-Brebes) adalah bentuk-bentuk teater yang sama dengan teater modern, memiliki unsur-unsur seperti panggung, musik, dan plot. Hanya saja yang membuat berbeda ada di urusan naskah yang dalam tradisi teater tradisional Indonesia adalah ingatan dan cerita-cerita rakyat. Beberapa praktik teranyar makin menguatkan garis demarkasi yang kalis antara modern-tradisional.

Akrabnya masyarakat Brebes dengan seni pertunjukan tradisi tersebut sebenarnya bisa menjadi modal awal menuju “masyarakat teater” yang Jimmy cita-citakan. Siasat dan langkahnya meramu sebuah pertunjukan dengan meleburkan seni tradisi-modern, membuat panggung bisa di mana saja dan turba langsung ke calon masyarakat (penonton) mungkin menjadi titik awal untuk teater Brebes versi Sembung Senggani.

 

REFERENSI:

[1] “Sejarah Kabupaten Brebes”. Pranala: https://www.brebeskab.go.id/index.php/pages/sejarah.

[2] Busyairi, Badruzzaman. 1973. “Study Teater Brebes Kekurangan Pekerja Seni yang Serius”, dalam Abadi, 9 Februari 1973. Pranala: https://seputarteater.wordpress.com/2016/01/05/abadi-1973-badruzzaman-busyairi-study-teater-brebes-kekurangan-pekerja-seni-yang-serius/.

[3] Riyanto, Wijang Jati (ed). 2019. Inventarisasi Data Kesenian Jawa Tengah: Teater. Surakarta: Taman Budaya Jawa Tengah.

[4] Nugroho, Fajar Eko. 2017. “Warga Brebes Marah Lalu Mandi Lumpur, Ada Apa?”. Pranala: https://www.liputan6.com/regional/read/2833744/warga-brebes-marah-lalu-mandi-lumpur-ada-apa.